Pohon Angsana mungkin adalah pemandangan yang biasa Anda temui di pinggir jalan kota besar. Rindangnya yang meneduhkan dan bunga kuningnya yang harum saat mekar sering kali menjadi pelipur lara di tengah kemacetan.
Baca Juga :
- Lim Corporation, Distributor Resmi Plastik UV Vatan di Indonesia
- Kupas Tuntas Perbedaan Cincau Hijau dan Cincau Hitam, Menarik!
- Dulu Jarang Dilirik, Kini Buah Sukun Digadang Jadi Superfood
Namun di balik keberadaannya yang melimpah di area perkotaan, ternyata pohon ini hampir punah di habitat aslinya. Bagaimana mungkin pohon yang ada di mana-mana ini justru berstatus terancam punah? Mari kita bedah lebih dalam.
Melimpah di Kota, Langka di Hutan
Berdasarkan daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), pohon Angsana dikategorikan sebagai spesies Endangered (Terancam Punah) atau dalam beberapa catatan terbaru berada pada level Vulnerable (Rentan).
Penyebab utamanya adalah eksploitasi berlebihan di alam liar. Kayu Angsana, yang dikenal sebagai kayu narra atau rosewood, sangat diburu karena kualitasnya yang premium, kuat, awet, dan memiliki serat kemerahan yang cantik.
Akibatnya, populasi aslinya di hutan-hutan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menurun drastis hingga lebih dari 50% dalam beberapa dekade terakhir.
Mengapa Begitu Populer di Perkotaan?
Meskipun sulit ditemukan di hutan perawan, Angsana menjadi primadona untuk program penghijauan kota. Ada beberapa alasan mengapa pohon ini dipilih:
- Penyerap Polutan : Angsana efektif menyaring gas beracun dan debu kendaraan bermotor.
- Pertumbuhan Cepat : Pohon ini relatif mudah tumbuh melalui sistem stek (trubusan), sehingga cepat memberikan keteduhan.
- Estetika : Saat musim berbunga, seluruh tajuk pohon akan tertutup bunga kuning cerah yang memberikan pemandangan indah di trotoar jalan.
Nasib Angsana di kota pun tidak sepenuhnya mulus. Karena pertumbuhannya yang cepat dan sistem perakaran yang cenderung melebar di permukaan, pohon ini sering kali merusak trotoar.
Selain itu, dahan Angsana dikenal getas (mudah patah), yang sering kali membahayakan pengguna jalan saat terjadi angin kencang atau hujan deras di awal tahun 2026 ini. Serangan penyakit Fusarium wilt juga sempat menjadi momok.
Penyakit ini menyerang pembuluh kayu hingga membuat pohon mati mendadak, yang pernah memusnahkan ribuan pohon Angsana di Singapura dan beberapa kota besar di Indonesia.
Tahukah kamu? Polybag adalah wadah tanam yang sangat cocok untuk pembibitan tanaman skala besar. Harga murah, ringan, hemat tempat! Anda butuh polybag? Klik disini sekarang!
Upaya Pelestarian Pohon Angsana
Untuk menyelamatkan Angsana dari kepunahan total di alam liar, langkah konservasi kini mulai beralih dari sekadar penanaman di pinggir jalan menuju budidaya berkelanjutan.
Beberapa komunitas lingkungan dan instansi pemerintah mulai melakukan "penyulaman" dengan bibit yang lebih sehat dan mempromosikan penanaman di area hutan penyangga.
Nasib pohon Angsana sekarang adalah sebuah kontradiksi. Ia selamat di tangan manusia sebagai penghias kota, namun sekarat di rumah aslinya karena ketamakan akan kayunya.
Menanam satu pohon Angsana di halaman rumah atau area publik bukan hanya soal mencari keteduhan, tapi juga langkah kecil untuk menjaga agar spesies ini tidak benar-benar hilang dari muka bumi.
Reviewed by Pak Tani
on
Maret 14, 2026
Rating:




Tidak ada komentar: