Talas adalah tanaman umbi yang sangat familier di Indonesia, serta menjadi komoditas pangan penting di banyak negara tropis. Talas berasal dari wilayah Asia Tenggara. Namun, tahukah Anda bahwa talas memiliki sejarah yang jauh lebih tua dari yang Anda bayangkan?
Baca Juga :
- Waring Ikan, Jaring Hitam yang Multifungsi dan Ekonomis
- Ambergris, Muntahan Paus yang Dihargai Hingga Milyaran Rupiah
- Mengenal Durian Ripto, Mulai dari Sejarah hingga Harganya
Banyak ilmuwan meyakini bahwa talas sudah ada sejak zaman purba, menjadikannya salah satu tanaman budidaya tertua di dunia. Zaman purba sendiri merupakan periode prasejarah yang merujuk pada era manusia awal sebelum adanya catatan sejarah tertulis.
Bukti Talas Sudah Ada Sejak Zaman Purba
Salah satu bukti paling kuat berasal dari Gua Kilu di Papua Nugini, tempat arkeolog menemukan sisa-sisa talas yang diperkirakan berusia sekitar 30.000 hingga 35.000 tahun. Temuan ini menempatkan talas sebagai salah satu tanaman yang pertama kali dibudidayakan oleh manusia prasejarah.
Selain itu, budidaya talas juga ditemukan di situs-situs arkeologi di Tiongkok dan India yang berusia sekitar 7.000 tahun. Penyebaran talas ke seluruh dunia tak lepas dari migrasi manusia purba. Dari Asia Tenggara, talas menyebar ke Polinesia, Afrika, dan Amerika Latin.
Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai jenis tanah dan iklim membuatnya menjadi sumber pangan yang vital bagi peradaban kuno. Talas dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, termasuk tanah alluvial yang berpasir, maupun jenis tanah latosol dengan tekstur liat berpasir dan bahan organik tinggi.
Ingin budidaya talas atau tanaman lain, tapi takut diganggu gulma? Yuk, pasang weedmat sekarang! Klik disini untuk cek harganya.
Manfaat dan Olahan Talas
Bagian talas yang sering dikonsumsi adalah umbinya yang kaya karbohidrat. Sebagai sumber karbohidrat, talas dapat menjadi sumber pangan alternatif pengganti nasi atau kentang. Talas kaya akan serat yang baik untuk pencernaan, serta vitamin dan mineral penting seperti vitamin B6, C, dan E.
Talas dapat diolah menjadi berbagai makanan, seperti keripik, talas goreng, kue, hingga bahan dasar bubur. Namun perlu diingat, karena mengandung kalsium oksalat, umbi talas bisa menyebabkan mulut terasa gatal jika tidak diolah dengan benar. Berikut tips mengolah talas agar tidak membuat mulut gatal.
Pertama, gunakan sarung tangan saat mengupas dan memotong umbi talas. Kedua, rendam umbi dalam air garam selama 15-30 menit untuk meluruhkan kristal kalsium oksalat penyebab gatal. Terakhir, masak hingga matang sempurna, misalnya dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang.

Tidak ada komentar: